http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/issue/feed SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral 2018-10-02T23:14:03+07:00 Ferdinan Paulus Anyab, S.Kom ipimalang@stp-ipi.ac.id Open Journal Systems <p>Jurnal Kateketik dan Pastoral - Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malangng</p> http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/45 EDITORIAL JURNAL SAPA VOL. 3 NO. 1 2018-10-02T21:45:22+07:00 Tim Editor author@stp-ipi.ac.id 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/44 PERCAKAPAN SEHARI-HARI SEBAGAI SARANA EVANGELISASI 2018-10-02T21:14:43+07:00 Martinus Irwan Yulius author@stp-ipi.ac.id <p>Perubahan dunia karena pengaruh perkembangan tidak bisa dipungkiri. Pengaruhnya kepada mereka yang telah dibaptis maupun mereka yang bukan kristen. Seruan seruan Evangelisasi baru untuk menghadapi tantangan ini telah dimulai oleh Paus Yohanes Paulus II dalam berbagai kesempatan. Sejak saat itu, pesan Injil yang tetap sama itu perlu disampaikan dengan cara-cara, semangat-semangat dan metode-metode yang baru. Artikel ini mencoba menggali dan menerapkan gagasan Groome dalam sebuah pedagogi pendidikan iman. Metode ini memang digagas dalam konteks formal; namun tidak menutup kemungkinan metode ini diterapkan dalam konteks yang lebih informal. Penulis melihat bahwa percakapan sehari-hari bisa menjadi sarana dan konteks pewartaan yang baik. Dengan menerapkan metode Groome dalam percakapan sehari-hari, pewartaan Injil tetap bisa dijalankan dan lebih menyentuh konteks kehidupan manusia.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/46 PENGUATAN LEMBAGA PENDIDIKAN TINGGI KEAGAMAAN: PENELITIAN DOSEN PTAK 2018-10-02T22:16:28+07:00 Aloma Sarumaha author@stp-ipi.ac.id <p>Setiap Dosen di Perguruan Tinggi dituntut untuk melaksanakan Tri Dharma Peguruan Tinggi yaitu, Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan gagasan pentingnya penguatan lembaga pendidikan Tinggi Keagamaan melalui penelitian para dosen. Setiap dosen di Peguruan Tinggi memiliki kewajiban untuk melaksanakan penelitian. Mengingat pentingnya penelitian, maka kegiatan penelitian dicoba difasilitasi oleh Pemerintah, cq. Ditjen Bimas Katolik, khususnya Direktorat Pendidikan Katolik. Fasilitasi ini sekaligus sebagai tanda kehadiran Negara untuk memperkuat masyarakat, dan untuk event ini, penguatan itu melalui aktivitas riset yang dilakukan oleh dosen PTAK. Sekaligus, dengan demikian, riset ini menjadi ruang bagi dosen PTAK untuk memperkembangkan kemampuannya dalam mengorganisasi situasi sosial yang mengandung unsur positif. Dengan demikian posisi Pemerintah adalah memfasilitasi sejauh memungkinkan; perguruan tinggi tetap mempunyai tanggung jawab untuk berjuang agar aktivitas penelitian terselenggara dengan baik dan teratur. Dan kelihatannya ke depan, research policy ini akan diutamakan untuk mereka yang sudah bergelar doktor dan berjabatan akademik lektor. Dengan demikian yang masih magister dan asisten ahli akan dilimpahkan ke PTAK untuk mengelolanya sendiri.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/47 KORELASI ANTARA KOMPETENSI PEDAGOGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DENGAN KEBERHASILAN SISWA SEKOLAH DASAR DI MALANG 2018-10-02T22:24:41+07:00 Yohanes Sukendar author@stp-ipi.ac.id <p>Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan apakah ada korelasi antara kompetensi Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dengan keberhasilan siswa dalam memperoleh nilai untuk rapor dan kehidupan siswa. Hanya saja dalam penelitian ini tidak semua komptensi guru diukur. Dari empat komptensi yang seharusnya dimiliki oleh guru, yang mau diteliti dalam penellitian ini adalah komptensi pedagogi. Komptensi pedagogi adalah kemampuan guru pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimiliki. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendapat dari Petunjuk Umum Katekese bahwa proses pembelajaran bidang studi PAK yang paling menentukan adalah peranan Guru. Maka jika kemampuan guru dalam bidang pedagogi sangat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam hasl nilai dan kehidupan rohaninya sebagai anak Katolik. Metodologi yang dgunakan adalah kuesioner dan nilai raport. Subyek penelitian adalah semua Guru PAK SD di Malang dan murid-murid. Khusus untuk murid- murid dibatasi kelas 4 sampai 6 dan diambil antara 3 sampai 6 siswa. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa korelasi komptensi pedagogi Guru Agama Katolik dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran PAK, diperoleh hasil 0,237, artinya ada korelasi antara komptensi Guru Agama Katolik dengan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Semakin tinggi hidup rohani dan kemampuan pedagogi Guru Agama Katolik semakin tinggi pula partisipasi siswa dalam pembelajaran.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/48 PERJUMPAAN INTERKULTURAL GURU DAN SISWA UNTUK MENGIKIS BUDAYA TIDAK BERANI BERPENDAPAT 2018-10-02T22:43:43+07:00 Yohanes Subasno author@stp-ipi.ac.id <p>Setiap bayi dilahirkan dengan tangisan yang mirip bahkan sama, namun akhirnya mereka mengembangkan kecakapan bahasa yang berbeda. Hal itu terjadi karena pengaruh lingkungan dan pendidikan yang diterimanya. Paling mudah mengidentifikasi perbedaan budaya adalah dari bahasanya. Interaksi berbagai budaya kerap dijumpai di masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah. Penulis tertarik mempelajari interaksi dua budaya di sekolah, yakni budaya Indonesia Timur yang lebih terbuka, diwakili oleh guru, dan budaya Jawa yang cenderung tidak berani berpendapat dari kalangan siswa. Apakah perjumpaan interkultural guru dan siswa dapat mengikis ketidakberanian berpendapat? Beberapa teori mengemukakan bahwa budaya diwariskan dari generasi ke generasi. Dua polar budaya yang terus diperbincangkan adalah budaya kolektif dan individualis, yang keduanya bertalian erat dengan pemilihan kata dan pembentukan kalimat dalam berkomunikasi. Seorang yang berkomunikasi lebih dari satu bahasa, akan memiliki pola pikir mengikuti bahasa yang sedang digunakannya. Uncertainty management theory menyebutkan, komunikasi seseorang dipengaruhi konsep diri, motivasi berinteraksi, reaksi terhadap orang asing, kategori sosial orang asing, proses situasional, dan koneksi dengan orang asing. Unsur-unsur tersebut mempengaruhi kecemasan, menyebabkan ketidakberanian mengungkapkan pendapat termasuk bertanya. Interaksi interkultural yang terjadi di kelas menempatkan guru sebagai pusat perhatian siswa. Gaya komunikasi yang dipengaruhi oleh budaya aslinya, berpengaruh pada siswa. Timbulah konflik dalam diri siswa: mendengarkan guru sebagai kepatuhan versus guru yang menawarkan gaya lebih bebas berekspresi. Bila proses ini berjalan natural, maka ketidakberanian mengemukakan pendapat akan terkikis. Namun perjumpaan interkultural juga berpotensi menyebabkan miskomunikasi dan salah paham. Jika terus terjadi, dapat mengakibatkan antitesis hipotesa dalam artikel ini.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/49 PENDIDIKAN SEBAGAI HABITUS TRANSFORMASI DIRI 2018-10-02T22:49:00+07:00 Fabianus Selatang fabianus.selatang@gmail.com <p>Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan definisi, aspek dan tujuan pendidikan dari sudut pandang filsafat. Filsafat pendidikan menyentuh tiga hal penting yakni being and reality, knowledge, and value. Ketiga hal penting itu dikupas dalam konteks pendidikan di Indonesia dewasa ini. Penulis mengawali pembicaraan ini dari hingar-bingar dan sepak terjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih. Saat yang sama, manusia dihadapkan dengan idealisme dan tuntutan zaman. Metode yang dipakai oleh penulis adalah kepustakaan dengan mengkaji beberapa literatur yang terkait dengan filsafat pendidikan. Penulis mendalami dan manggali dari beberapa literatur terkait pendidikan. Yang akan dikaji dan didalami dari tema mengenai pendidikan ini ialah definisi, aspek dan tujuan pendidikan. Selain tiga hal tersebut, penulis menambahkan beberapa sub bagian yang terkait dengan judul di atas. Hasil temuan dari kajian literatur ini antara lain. Pertama, gagasan pendidikan sebagai habitus merupakan kajian yang emblematis. Dikatakan demikian karena pendidikan dihadapkan dengan konsep-konsep yang diusung oleh modernitas. Ketika pendidikan hanya menekankan aspek akal budi, maka aspek karakter, religiusitas, moralitas, dan reflektif kurang mendapat tempat. Kedua, pendidikan dewasa ini dihadapkan pada dua hal yakni idealisme dan impasse (kebutuhan). Ketiga, subjek dari pendidikan ialah manusia. Oleh karena itu, pendidikan menyentuh totalitas diri manusia seutuhannya dan bukan manusia yang parsial. Kesimpulanya, pendidikan sebagai habitus transformasi diri mengajak setiap pelaku pendidikan untuk mengembalikan roh dari pendidikan itu sendiri, sehingga rohnya tidak tercabut dan direduksi dari manusia modern.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/50 PELAYANAN PASTORAL BAGI SESAMA YANG MEMBUTUHKAN 2018-10-02T23:06:02+07:00 Loren Goa author@stp-ipi.ac.id <p>Tulisan ini penulis mencoba menganalisa tentang arti pelayanan secara umum menurut para ahli, pelayanan umum, dan pelayanan kristiani karitatif. Banyak orang keliru dalam memandang setiap tugas pelayanan yang dilakukan. Ada yang menganggapnya begitu sepele sehingga tidak pernah serius melaksanakannya. Pelayanan dianggap sebagai pekerjaan sambilan atau sekedar mengisi waktu luang. Ada pula yang melakukan suatu pelayanan karena didorong oleh motivasi tertentu. Motivasi bisa dilihat dari dua segi yakni pertama dari Allah sendiri yakni karena Allah sendiri telah lebih dahulu mengasihi dan memanggil kita sehingga kita bisa membagikan kepada sesama melalui pelayanan kita. Kedua motivasi dari sudut manusia supaya kita bisa mengasihi dan melayani Allah. <br>Pelayanan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekumpulan orang untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dengan demikian pelayanan pastoral perlu diperhatikan karena melalui pelayanan pastoral ini berarti memenuhi kebutuhan orang lain atau sesama. Maslow menguraikan bagaimana kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi yang disebut dengan hirarki kebutuhan yakni mulai kebutuhan yang paling mendasar sampai kebutuhan yang paling tinggi. <br>Pelayanan pastoral seharusnya dilaksanakan dalam konteks Kerajaan Allah. Artinya setiap pelayanan pastoral diletakan dalam kerangka karya Allah yang sedang memberlakukan kerajaan-Nya di dunia ini. Yesus memberikan gagasan utama tentang Kerajaan Allah kepada para pengikut-Nya melalui perumpamaan. Kisah-kisah-Nya mengungkapkan bahwa Allah adalah kasih, yang berbela rasa, murah hati dan pengampun. Allah memperhatikan orang miskin, pendosa, yang sakit dan tersingkir. Allah seumpama seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba di padang dan mencari satu domba yang hilang (Luk. 15: 3-6). Dengan demikian pelayanan pastoral mempunyai fungsi menyembuhkan, menopang, membimbing, memperbaiki hubungan, dan mengasuh/memelihara.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/51 STRATEGI PEMBELAJARAN 2018-10-02T23:14:03+07:00 Kakok Koerniantono author@stp-ipi.ac.id <p>Strategi pembelajaran merupakan proses pemilihan dan perencanaan cara-cara yang akan dipilih oleh pendidik dalam menyampaikan isi materi pelajaran yang menitik beratkan pada aktivitas siswa. Dan meskipun banyak pendidik secara teoritis paham tentang strategi pembelajaran tersebut, tapi dalam pelaksanaannya sangat sulit dilakukan dengan optimal; karena pelaksanaan strategi pembelajaran itu sangat tergantung pada peserta didik, tujuan pembelajaran, isi materi pembelajaran dan sumber serta sarana prasarana yang mendukung dalam pelaksanaan strategi pembelajaran.</p> 2018-05-01T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement##