http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/issue/feed SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral 2019-11-29T18:34:13+07:00 Ferdinan Paulus Anyab, S.Kom ipimalang@stp-ipi.ac.id Open Journal Systems <p>Jurnal Kateketik dan Pastoral - Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malangng</p> http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/83 DAFTAR ISI JURNAL SAPA VOL. 4 NO. 2 2019-11-29T18:34:13+07:00 Tim Editor author@stp-ipi.ac.id 2019-11-29T18:34:13+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/74 EDITORIAL JURNAL SAPA VOL. 4 NO. 2 2019-11-29T17:07:00+07:00 Tim Editor author@stp-ipi.ac.id <p><strong>EDITORIAL</strong></p> <p>Jurnal SAPA kali ini memasuki tahun yang keempat dan berusaha untuk tampil semakin baik. Dalam edisi kali ini menyampaikan beberapa artikel berdasarkan hasil penelitian dan analisa pustaka.</p> <p>Artikel pertama membuat komparasi tentang “pastoral” menurut Paulus dan Romo Paul Janssen. Dari hasil perbandingan ternyata penulis menemukan banyak kesamaaan dan kemiripannya antara Paulus dan Romo Paul Janssen: karya pastoral melanjutkan karya Kristus dan selalu bertitik tolak dari tugas perutusan dan panggilan yang berasal dari Allah.</p> <p>Artikel kedua memberikan uraian tentang “pastoral keluarga dalam upaya membangun family resiliency” Dalam dinamikanya, keluarga Katolik tidak hanya menerapkan kasih Allah di dalam dirinya, namun juga&nbsp; memantulkan kasih Allah itu ketika berinteraksi dengan masyarakat di luar dirinya, sebagai perwujudan garam dan terang bagi lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan “penguatan” Gereja kecil inilah sehingga dibutuhkan campur tangan gereja yang disebut Pastoral Keluarga.&nbsp;</p> <p>Artikel ketiga ulasan tentang “mengembangkan persaudaraan insani” yang ditinjau diri segi Biblis. Tulisan ini bermaksud untuk mencoba menyoroti tentang tema tersebut dari sudut pandang Kitab Suci. Tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian, yang pertama tinjauan Perjanjian Lama, yang kedua tinjauan dari Perjanjian Baru dan ketiga kesimpulan.</p> <p>Artikel keempat mengulas tentang “Pastoral yang mengembangkan persaudaraan insansi ditinjau dari Sosiologi. Persaudaraan dalam Sosiologi terjadi melalui interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu saling memengaruhi, mengubah atau memperbaiki satu sama lain (Gerungan (1986:57). Interaksi sosial terjadi dengan latar belakang kebutuhan sesuai teori Masslow yaitu kebutuhan fisik maupun kebutuhan rasa aman.</p> <p>Artikel keempat merupakan hasil penelitian tentang usaha meningkatkan motivasi belajar pada mahasiswa “setengah hati.” Artikel terapan ini bermaksud mengupas hal ikhwal tentang motivasi dan motivasi belajar dari tinjauan psikologis, dan menawarkan upaya-upaya meningkatkan motivasi belajar mahasiswa “setengah hati” berdasarkan kajian teori yang dipaparkan.&nbsp;</p> <p>Artikel kelima mengulas tentang pembaharuan pelaksanaan katekese dan metode katekese inkulturatif. Inkulturasi merupakan usaha katekese agar disatu pihak iman dan agama Kristen dapat berakar pada kebudayaan dan seluruh hidup umat dan di lain pihak aneka macam kebudayaan dan penghayatan hidup umat konkrit dapat diangkat menjadi bentuk penghayatan iman Kristen. Orang Kristen hendaknya dapat menjadi orang Kristen seratus persen dan sekaligus menjadi anggota bangsanya seratus persen.</p> <p>Artikel keenam merupakan hasil penelitian tentang “efektivitas paguyuban orang tua dalam memberdayakan anak disabilitas di Mojorejo, Blitar. Dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui efektivitas paguyuban orang tua dalam memberdayakan anak disabilitas di Mojorejo Blitar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti terhadap orang tua yang tergabung dalam paguyuban, ketua paguyuban dan petugas lapangan.&nbsp;&nbsp;</p> <p>Sedangkan artikel terakhir mengulas tentang kebijakan pendidikan nasional dan implementasinya pada Sekolah Dasar. Arah dasar perhatian kebijakan pendidikan nasional adalah Sekolah Dasar, karena merupakan lembaga awal pembentukan manusia menuju kecerdasan yang optimal. Kebijakan pendidikan nasional dalam konteks ini lebih pada implementasinya di lembaga pendidikan dasar.</p> 2019-11-29T17:07:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/73 PASTORAL ALA PAULUS DAN RM. PAUL JANSSEN 2019-11-29T16:58:00+07:00 Paskalis Edwin I Nyoman Paska author@stp-ipi.ac.id <p>Karya pastoral dewasa ini melanjutkan karya pastoral sejak zaman Gereja Purba. Bentuk, strategi, dan tujuannya tentu tidak harus persis sama, namun juga tidak boleh bertentangan sama sekali atau dilupakan begitu saja. Apa yang telah dilakukan di masa lampau dapat menjadi inspirasi yang baik bagi pastoral dewasa ini. Romo Paul Janssen, CM, pendiri Institut Pastoral IPI-Malang memberi contoh cara berpastoral seperti itu. Beliau mengaktualisasikan karya pastoral yang dilakukan Paulus dengan berhasil di Jawa Timur, khususnya Madiun dan Malang.&nbsp;</p> <p>Melalui penelitian dan refleksi atas teks-teks Alkitab dan karya-karya pastoral yang dilakukan oleh Romo Paul Janssen, kami membandingkan karya pastoral Santo Paulus dan Romo Paul Janssen. Ternyata ada banyak kesamaan dan kemiripannya: karya pastoral melanjutkan karya Kristus dan selalu bertitik tolak dari tugas perutusan dan panggilan yang berasal dari Allah sendiri; semangat pelayanan lahir dari pengalaman pribadi bukan teori semata; karya pastoral melanjutkan dan melengkapi karya misi yang sangat menekankan penanaman Gereja; pentingnya membangun relasi melalui kunjungan, surat menyurat, dan mempercayakan tanggung jawab kepada rekan kerja. Kini, giliran para murid dan para pelayan pastoral mengaktualisasikannya dalam konteks Indonesia dewasa ini.</p> 2019-11-29T00:00:00+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/75 PASTORAL KELUARGA DALAM UPAYA MEMBANGUN FAMILY RESILIENCY 2019-11-29T17:14:37+07:00 Laurensius Laka author@stp-ipi.ac.id <p>Setiap keluarga adalah suatu sistem-suatu kesatuan yang dibentuk oleh bagian-bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi. Hubungan itu tidak hanya berlangsung satu arah. Setiap keluarga Katolik adalah Gereja rumah tangga (Ecclesia Domestica) yang hadir di tengah-tengah masyarakat, dengan kewajiban utamanya adalah membangun Kerajaan Allah. Dalam dinamikanya, keluarga Katolik tidak hanya menerapkan kasih Allah di dalam dirinya, namun juga&nbsp; memantulkan kasih Allah itu ketika berinteraksi dengan masyarakat di luar dirinya, sebagai perwujudan garam dan terang bagi lingkungan sosialnya. Berkaitan dengan “penguatan” Gereja kecil inilah sehingga dibutuhkan campur tangan gereja yang disebut Pastoral Keluarga.</p> 2019-11-29T17:14:37+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/77 MENGEMBANGKAN PERSAUDARAAN INSANI (TINJAUAN BIBLIS) 2019-11-29T18:02:11+07:00 Yohanes Sukendar author@stp-ipi.ac.id <p>Dewasa ini ada banyak perpecahan dan pertikaian antara manusia, yang disebabkan oleh berbagai macam perbedaan dan kepentingan. Untuk menanggapi hal tersebut baru-baru ini Paus Fransiskus mengumandangkan keinginannya supaya umat Katolik mengembangkan persaudaraan insansi, yaitu relasi dengan sesama manusia yang tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat agama, ras, budaya, suku dan sebagainya. Dengan mengembangkan persaudaraan insani, diharapkan terjalinlah persaudaraan antara manusia, sehingga bumi di mana kita tinggal ini sungguh-sungguh damai. Tulisan ini bermaksud untuk mencoba menyoroti tentang tema tersebut dari sudut pandang Kitab Suci. Tulisan ini dibagi ke dalam tiga bagian, yang pertama tinjauan Perjanjian Lama, yang kedua tinjauan dari Perjanjian Baru dan ketiga kesimpulan.</p> 2019-11-29T18:02:10+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/78 PASTORAL YANG MENGEMBANGKAN PERSAUDARAAN INSANI DITINJAU DARI SOSIOLOGI 2019-11-29T18:06:17+07:00 Teresia Noiman Derung author@stp-ipi.ac.id <p>Pastoral yang mengembangkan persaudaraan insani dari segi sosiologi mengingatkan kita akan keberadaan tiap orang dalam masyarakat. Individu tidak bisa hidup tanpa kehadiran orang lain atau orang lain menjadi bagian penting dalam hidup bersama sebagai saudara. Persaudaraan berarti persahabatan yang sangat karib, seperti layaknya saudara atau pertalian persahabatan yang serupa dengan pertalian saudara. Persahabatan melampaui pertalian atau ikatan darah seperti yang dicontohkan dalam cara hidup jemaat perdana yang terdapat dalam Kis 2:41-47. Para jemaat perdana menjadikan sesama sebagai satu saudara melampaui hubungan darah.&nbsp;</p> <p>Persaudaraan dalam Sosiologi terjadi melalui interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu saling memengaruhi, mengubah atau memperbaiki satu sama lain (Gerungan (1986:57). Interaksi sosial terjadi dengan latar belakang kebutuhan sesuai teori maslow, yaitu kebutuhan fisik,&nbsp; kebtuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, kebutuhan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri dan kebutuhan terakhir menurut Paul Janssen, adalah kebutuhan spritualitas. Semua kebutuhan ini memanggil manusia untuk memenuhinya bersama dengan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi sosial dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu kontak sosial dan komunikasi sosial. Ketika berinteraksi dalam kehidupan bersama, ada dua bentuk yang dikembangkan, yaitu bentuk asosiatif dan bentuk disosiatif. Bentuk asosiatif merupakan bentuk yang membangun persaudaraan insani karena di dalamnya ada kerja sama, akomodasi, dan asimilasi. Bentuk disosiasi terdiri dari 4 bentuk yaitu persaingan, kontradiksi, pertikaian, pertentangan (conflict).</p> 2019-11-29T18:06:16+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/79 MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA MAHASISWA "SETENGAH HATI" 2019-11-29T18:12:57+07:00 Yohanes Subasno author@stp-ipi.ac.id <p>Motivasi belajar merupakan salah satu kunci untuk meraih keberhasilan studi di semua jenjang pendidikan. Pada pendidikan tinggi, pemilihan program studi menjadi unsur sangat penting, dapat memengaruhi motivasi belajar. Mahasiswa sering menghadapi fakta, bahwa kuliahnya tidak selaras dengan keinginan. Penyebabnya karena beberapa hal, semisal tidak diterima pada program studi yang diminatinya, kesulitan biaya, kemauan orang tua, dan sebagainya. Ketidaksesuaian antara minat dan aktifitas belajar tersebut menyebabkan lemahnya motivasi, dan mereka laksana mahasiswa “setengah hati”.&nbsp;</p> <p>Artikel ini didasarkan atas wawancara yang dilakukan dengan mahasiswa baru Program Studi Pelayanan Pastoral STP-IPI Malang. Program studi ini menyiapkan lulusan menjadi pelayan pastoral dan memberi perhatian pada pemberdayaan penyandang disabilitas. Faktor panggilan dan passion yang khas, yang mendorong mahasiswa berminat masuk ke program studi ini. Kira-kira 40% mahasiswa mengaku minat utama studinya adalah tidak di bidang ini, namun karena tidak diterima pada program studi yang diinginkannya, mereka “terpaksa” masuk ke Program Studi Pelayanan Pastoral. Hal ini menyisakan problem motivasi belajar, yang berpengaruh pada prestasi akademik mereka.</p> <p>Artikel terapan ini bermaksud mengupas hal ikhwal tentang motivasi dan motivasi berprestasi dari tinjauan psikologis, dan menawarkan upaya-upaya meningkatkan motivasi belajar mahasiswa “setengah hati” berdasarkan kajian teori yang dipaparkan.&nbsp;</p> <p>Upaya-upaya berikut dapat dilakukan untuk memperbaiki motivasi belajar: (1) Sosialisasi dan sensitisasi profil lulusan, (2) Pembimbing akademik yang sesuai, (3) Pelatihan empati bagi dosen dan tenaga kependidikan, (4) Program pembentukan diri, (5) Beasiswa dan Ikatan Dinas, (6) Menjalin komunikasi dengan keluarga.</p> 2019-11-29T18:12:57+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/80 PEMBAHARUAN PELAKSANAAN KATEKESE DAN METODE KATEKESE INKULTURATIF 2019-11-29T18:21:55+07:00 Intansakti Pius X author@stp-ipi.ac.id <p>Pentingnya keterlibatan seluruh jemaat dalam keseluruhan karya katekese terasa mendesak dimana-mana. Iklim yang mendukung bagi karya itu sudah diciptakan oleh Konsili Vatikan II, dimana ada pergeseran tekanan eklesiologis dari Gereja sebagai tubuh mistik Kristus, kepada Gereja sebagai umat Allah. Masing–masing tekanan itu mengandung makna dan konsekuensi yang amat berbeda. Seluruh umat sesuai dengan kedudukan dan fungsinya harus memberikan andil yang nyata dalam pelaksanaan karya katekese. Inkulturasi adalah merupakan usaha katekese agar disatu pihak iman dan agama Kristen dapat berakar pada kebudayaan dan seluruh hidup umat dan dilain pihak aneka macam kebudayaan dan penghayatan hidup umat konkrit dapat diangkat menjadi bentuk penghayatan iman Kristen. Orang Kristen hendaknya dapat menjadi orang Kristen seratus persen dan sekaligus menjadi anggota bangsanya seratus persen.</p> 2019-11-29T18:21:55+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/81 EFEKTIFITAS PAGUYUBAN ORANG TUA DALAM PEMBERDAYAAN ANAK DISABILITAS DI MOJOREJO BLITAR 2019-11-29T18:25:52+07:00 Lorentius Goa author@stp-ipi.ac.id <p>Tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah agar orang tua penyandang disabilitas yang masuk sebagai anggota paguyuban yang ada di Mojorejo Blitar dapat memberdayakan anaknya sehingga bisa mandiri. Kemandirian anak disabilitas tergantung dari orang tua yang menjadi pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kemandirian anak disabilitas tentu berbeda-beda, sesuai kemampuan anak tersebut. Selain itu, para orang tua dapat saling mengenal, saling berbagi pengalaman mengenai keberadaan anak disabilitas, saling mendukung, keberhasilan dan kesulitan yang mereka alami dalam mendampingi anak disabilitas sehingga orang tua memiliki semangat yang sama, yaitu menerima kehadiran anak disabilitas dan dengan ketulusan hati mencari jalan keluar bersama petugas lapangan mendampingi anak penyandang disabilitas.</p> <p>Sedangkan target khusus yang dicapai dalam penelitian ini adalah peneliti ingin mengetahui efektivitas paguyuban orang tua dalam memberdayakan anak disabilitas di Mojorejo Blitar. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara ini dilakukan oleh peneliti terhadap orang tua yang tergabung dalam paguyuban, ketua paguyuban dan petugas lapangan.</p> <p>Hasil penelitiannya adalah paguyuban orang tua anak disabilitas efektif dalam memberdayakan anak disabilitas. Keefektifan paguyuban tampak dalam hal: orang tua menerima kehadiran anak, orang tua memahami kedisabilitasan, orang tua membuat program bersama dengan tim ahli, orang tua melaksanakan dan mengevaluasi program.</p> 2019-11-29T18:25:52+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/82 KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL DAN IMPLEMENTASINYA PADA SEKOLA DASAR 2019-11-29T18:29:41+07:00 Angelika Bule Tawa author@stp-ipi.ac.id <p>Pendidikan merupakan fenomena kemanusiaan universal yang jika benar aktivitasnya akan menumbuh kembangkan multidimensi kemampuan dasar manusia. Arah perhatian pendidikan lebih pada anak didik yakni mereka yang mampu mengoptimasi potensi diri sebagai insan pribadi. Untuk mencapai cita-cita ini maka peran berbagai pihak sangat dibutuhkan secara khusus para pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah dan lembaga-lembaga yang berkaitan langsung dengan pendidikan. Arah dasar perhatian kebijakan pendidikan nasional adalah Sekolah Dasar karena merupakan lembaga awal pembentukan manusia menuju kecerdasan yang optimal. Kebijakan pendidikan nasional dalam konteks ini lebih pada implementasinya di lembaga pendidikan dasar.</p> 2019-11-29T18:29:41+07:00 ##submission.copyrightStatement##