Editorial Jurnal SAPA Vol. 6 No. 1

  • Tim Redaksi

Abstract

Jurnal SAPA Edisi Mei 2021, Berisi Delapan Artikel.

            Artikel Pertama adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosian dengan motivasi belajar mahasiswa pada pembelajaran daring di masa Covid-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik sampling yang digunakan adalah  non probability sampling dengan sampel jenuh. Penelitian dilakukan di STIPAS Tahasak Danum Pambelum Palangkaraya dengan melibatkan 57 mahasiswa yang mengikuti pembelajaran daring pada Program Studi Pendidikan dan Pengajaran  Agama Katolik. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala dukungan sosial memiliki  koefisien reliabilitas dihitung menggunakan Alpha Cronbach sebesar 0,927 dengan 39 item valid, dan skala motivasi belajar memiliki  koefisien reliabilitas  sebesar 0,929 dengan 36 item valid  yang disebarkan melalui media goole form.  Data dianalisis dengan menggunakan  teknik analisis korelasi  Pearson Product Moment melalui program IBM SPSS 25. Hasil analisis data adalah nilai r = 0,355 dengan p = 0,007 (p<0,01), maka dapat disimpulkan  ada hubungan yang signifikan antara dukungan sosial dengan motivasi belajar daring mahasiswa STIPAS Tahsak Danum Pambelum Palangka Raya pada pembelajaran daring di masa pandemi  Covid-19.

Artikel Kedua. Pandemi Covid-19 menimbulkan persoalan yang berdampak luas bagi masyarakat. Dampaknya juga dirasakan oleh para pembina rasul cilik dalam membina iman anak-anak yang tergabung dalam komunitas rasul cilik. Perkembangan iman para rasul cilik menjadi hal yang sangat penting bagi Gereja. Gereja mengusahakan segala cara melalui para pendamping untuk membina rasul cilik. Banyak tantangan akibat pandemi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Situasi ini membentuk pola pikir dan pola relasi yang cenderung individualistis. Perubahan ini menuntut para pembina menemukan metode pengajaran yang tepat untuk membina iman rasul cilik. Keteladanan dan pengajaran yang tepat sangat dibutuhkan untuk perkembangan iman rasul cilik. Keteladanan dan pengajaran yang tepat bisa diberikan oleh para pembina dan orang tua demi perkembangan Gereja di masa depan.

Artikel Ketiga. Dalam konteks pendidikan strategi guru dan tenaga kependidikan merujuk pada cara yang dilakukan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi guru dan tenaga kependidikan dalam mengimplementasikan kurikulum Kemenag 2013 di SMAK Bhakti Luhur Malang, merupakan usaha untuk mendidik dan membina para siswa-siswi yang sesuai dengan situasi di era milenial ini. Permasalahan dalam penelitian ini berkaitan dengan pentingnya kurikulum Kemenag 2013 dalam dunia pendidikan pada era milenial di SMAK Bhakti Luhur Malang. Demi memperdalam penelitian tersebut, peneliti juga mengeksplorasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat guru dan tenaga kependidikan dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Dalam mendapatkan data, peneliti menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Tahap-tahap penelitian meliputi pra lapangan, pekerjaan lapangan dan analisis data sesuai prosedur penelitian menurut Lexy J Meleong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum Kemenag 2013 di era milenial di SMAK Bhakti Luhur Malang sangat penting dan aktual karena mampu mengisi kekosongan atau kekurangan dalam rangka membentuk siswa berakhlak dan berkarakter di era milenial. Strategi guru dan tenaga kependidikan dalam mengimplementasikan kurikulum Kemenag 2013 di antaranya; metode pembelajaran, dan sarana pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik. Faktor pendukung adalah sarana modern yang memadai, kerja sama yang baik antar guru, tenaga kependidikan dan siswa, sedangkan faktor penghambat misalnya, kemampuan pendidik dan penyesuaian terhadap gaya belajar siswa.

Artikel Keempat. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural baik dari agama ataupun sukunya. Setiap orang beriman Katolik memiliki kewajiban untuk menjaga harmoni dalam hidup bermasyarakat, sebaliknya, Gereja mengecam setiap tindak diskriminasi atau penganiayaan berdasarkan kondisi hidup dan agama, karena berlawan dengan semangat Kristus. Pada kenyataannya, banyak sekali orang Kristen yang terlibat dalam permasalahan yang menodai kesatuan dan keberagaman, khususnya dalam nama agama. Maka dalam hal ini perhatian penulis adalah kembali kepada dasar ajaran utama Yesus mengenai sikap saling mengasihi. Perintah supaya saling mengasihi dalam teks Yohanes 15:9-17 dapat menjadi pedoman bagi umat beriman untuk membantu menanggapi model hidup di tengah konteks pluralitas agama. Penulisan didasarkan pada masalah untuk mengetahui 1) arti dan 2) pesan dari teks Yohanes 15:9-17 dalam konteks pluralitas agama serta 3) aplikasinya dalam katekese umat. Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode kajian pustaka. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa kasih Yesus adalah pola dan pedoman kasih manusia. Yesus adalah suatu realitas dari kasih. Maka sebagai murid yang berhimpun dalam kesatuan dengan Yesus, syarat yang dituntut adalah tinggal dalam kasih Yesus. Tinggal dalam kasih Yesus dapat diwujudkan dengan suatu komitmen serta kesetiaan, yaitu melalui ketaatan terhadap perintah-Nya. Dengan fakta pluralitas agama, maka orang yang kristiani yang oleh karena rahmat pembaptisan telah dipilih oleh Allah sebagai rasul untuk pergi mewartakan kasih-Nya melalui usaha-usaha dilakukan dengan memperhatikan segala situasi dan kondisi hidup yang terjadi di tengah masyarakat dengan pertimbangan sosial, budaya, dan politik. Konkretnya hal ini dapat dilakukan dengan mengedepankan sikap kerukunan umat beragama, toleransi, dan usaha dialog serta kerja sama antar umat beragama.

Artikel Kelima. Artikel ini memiliki fokus pada Misi Umat Pasionis sebagai Sarana Katekese (Tinjauan Katekese Pemikiran Beverly). Saya tertarik dan memiliki kegelisahan membahas artikel tentang misi umat pasionis sebagai sarana katekese iman umat Katolik di Kalimantan barat karena beberapa alasan. Pertama, umat Katolik di pedalaman membutuhkan penyegaran iman. Kedua, melalui misi Umat Pasionis ini umat diajak untuk semakin dekat dengan Kristus tersalib sekaligus menghayati penderitaan Yesus. Ketiga, umat membutuhkan pencerahan iman dari pihak Gereja sebagai hierarki. Terakhir bahwa melalui artikel ini saya hendak mengenalkan spiritualitas dan kharisma Kongregasi Pasionis di masa sekarang ini. Metode yang penulis gunakan dalam penulisan artikel ini ialah melalui wawancara personal dan kepustakaan. Setelah melalui wawancara dan memperoleh data melalui kepustakaan kemudian dianalisis dan dikombinasikan. Dengan demikian hasil dari lapangan dan hasil dari kepustakaan ditemukan suatu pemikiran yang sesuai antara pemikiran Beverly dan pelaksanaan Misi Umat Pasionis. Hasil dari cetusan pemikiran Beverly dan Misi Umat Pasionis menjadi sarana untuk evaluasi dan melihat misi ini secara komprehensif dan holistik. Maka dari itu, spiritualitas pasionis terus menerus membaharui diri dengan ilmu, peneletian, riset yang mumpuni tentang suatu pewartaan atau misi. Misi Umat Pasionis menjadi sumbu dan obor yang baik dalam kesaksian pewartaan misi Gereja di dunia. Misi ini tidak berhenti pada selesainya acara melainkan terus berlangsung dan dihidupi umat beriman.

Artikel Keenam. Salah satu unit kerja Bhakti Luhur, PPRBM, memiliki peran aktif dalam pengembangan dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Salah satu program dalam pengembangan itu adalah Indepth rights (Inclusive Development Through Participation, Trust And Based On Human Rights). Langkah konkret yang diambil bertajuk Parenting Training yang bertujuan untuk melatih para orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa efektif pelatihan itu terhadap perkembangan anak-anak tersebut. Variabel-variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah bantu diri, okupasi dan kognitif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Peneliti akan mengambil delapan sampel anak-anak tunagrahita yang orang tua mereka mengikuti pelatihan. Data-data akan dikumpulkan melalui metode wawancara dan observasi. Data-data observasi akan diolah dengan menggunakan rumus F persen. Kemudian, data yang terkumpul akan dibandingkan dengan hasil asesmen dan IRP (Individual Rehabilitation Program) sebagai data awal untuk melihat berapa persen pertumbuhan yang dialami oleh anak-anak berkebutuhan khusus tersebut. Secara umum ketiga variabel penelitian mengalami peningkatan; variabel bantu diri meningkat sebesar 29%; variabel okupasi juga mengalami peningkatan sebesar 9%. Sedangkan pada sub variabel kognitif, parenting tranning mampu meningkatkan kemampuan anak sampai pada poin 30,25%. Dari hasil yang diperoleh bisa disimpulkan bahwa program Parenting Traning belum bisa meningkatkan kemampuan anak secara signifikan.

Artikel ke Tujuh. Tulisan ini berfokus pada kegiatan Bina Iman Remaja (BIR) selama masa pandemi. Bina Iman Remaja merupakan salah satu bentuk dari Katekese Kategorial Umat. Pandemi covid-19 membawa perubahan besar bagi dunia dan manusia. Mulai adanya pembatasan kegiatan masyarakat guna menekan laju penyebaran covid-19. Banyak kegiatan masyarakat yang dibatasi, bahkan ditiadakan untuk waktu yang tidak ditentukan. Gereja tidak bisa menghindari hal ini karena Gereja ada di tengah dunia. Gereja pun menanggapi situasi ini dengan mengambil kebijakan untuk melakukan beberapa kegiatan gerejawi secara online. Salah satu kegiatan yang dilakukan secara online adalah Bina Iman Remaja. Metodologi yang peneliti gunakan dalam pembuatan tulisan ini adalah metode kualitatif, yakni dengan melakukan wawancara pribadi dengan responden. Temuan saya dalam penelitian ini ialah bahwa kegiatan Bina Iman Remaja yang dilakukan secara online tidak efektif bagi perkembangan iman kaum Remaja Katolik.

Artikel ke Delapan. Tulisan ini bermaksud menyelidiki ada tidaknya pengaruh penggunaan handphone di kalangan remaja Katolik terhadap komunikasi keluarga. Apakah ada pengaruh penggunaan handphone di kalangan remaja Katolik dalam komunikasinya terhadap orang tua atau anggota keluarganya. Apakah komunikasi remaja dengan anggota menjadi semakin berkurung dengan menggunakan handphone ataukah tidak ada pengaruh sama sekali, artinya para remaja tetap berkomunikasi dengan baik biarpun ia menggunakan handphone. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang melibatkan 31 remaja Katolik di salah satu stasi di Paroki Kabanjahe Sutamera Utara. Analisa hasil penelitian dilakukan secara statistik dengan uji signifikansi regresi Y terhadap X dan uji korelasi. Pengujian hipotesis dengan nilai -17,19 melebihi nilai F tabel sebesar 4,18 yang berarti ada pengaruh handphone terhadap komunikasi yang bersifat negatif: semakin tinggi penggunaan handphone dan kemampuan pengguna maka semakin rendah berkomunikasi dengan anggota keluarga. Penghitungan korelasi sebesar -0,433 menyatakan ada hubungan yang bersifat terbalik (negatif) yang berarti semakin tinggi penggunaan handphone semakin rendah berkomunikasi dengan anggota keluarga dan semakin rendah waktu penggunaan handphone semakin tinggi berkomunikasi dengan keluarga.

Published
2021-05-27
Section
Kelengkapan